Selasa, 20 Agustus 2019

JATIGEPCLOTH

Kaos adalah pakaian sederhana, dan ringan untuk tubuh bagian atas. biasanya berlengan pendek, namun ada juga yang berlengan panjang.
Kaos merupakan salah satu jenis pakaian yang sudah familiar di dunia fashion. Apalagi saat ini sudah banyak sekali desainer-desainer grafis yang berkecimpung di dunia sablon.

Keterangan foto tidak tersedia.

Sablon sendiri merupakan teknik mencetak gambar di atas permukaan kain dengan alat-alat tertentu seperti cat, screen atau film sablon, dll.
Sebenarnya penerapan sablon bukan hanya di media berupa kain saja, tapi juga bisa untuk kayu, kaca, dan kertas.

Saat ini sablon memiliki banyak peminat, terlebih di kalangan anak muda jaman sekarang yang sedang semangat-semangatnya berekspresi melalui media, salah satunya yaitu dengan media kaos, maka tak heran apabila banyak di setiap daerah yang sudah menggeluti jasa penyablonan ini, termasuk kami.

Untuk saat ini kami memberikan harga miring kepada para konsumen yang ingin berpartisipasi dengan kami. Cukup hanya dengan memesan dari rumah, memberikan gambar, dan memberikan kriteria kaos, maka dalam jangka waktu kurang dari satu minggu barang sudah siap untuk diantarkan. Dan yang paling penting adalah kami menerima pemesanan bijian atau satuan.

Adapun untuk kategorinya sebagai berikut:

KAOS POLOS:
            -Cotton combed 20s
            -Cotton combed 24s
            -Cotton combed 30s
            -Cotton combed 40s
                                                           
WARNA:
-Hitam
-Putih
-Merah
-Biru
-Hijau
-Kuning
-Abu-Abu
-Coklat
-Dll

CAT SABLON:
-Plastisol
-Rubber
-Superwhite
-Discharge
-Glow In The Dark (Fosfor)

Ayo buruan pesan sekarang!!!
Hubungi nomor WA kami: 082112808012,
atau datang langsung ke alamat kami di Desa. Kedunglurah Kec. Pogalan Kab. Trenggalek. Lebih tepatnya timur SPBE kedunglurah.
(yhy)

Kamis, 21 Desember 2017

JANGAN MENYERAH

"Jangan menyerah" meski semua terlihat sulit, berat dan terlihat tidak mungkin. Meski sebenernya kita merasa sudah pantas mengatakan menyerah. Jangan pernah menyerah. Menyerah adalah cara pasti untuk gagal.

"Jangan menyerah" kata-kata itu yang sering dibisikkan oleh hati kecil kita saat kita sedang benar-benar lelah menangung kerasnya hidup. Namun, kebayakan orang tidak menggubrisnya dan lebih memilih diam di tempat pasrah dengan keadaan. Itu tidak benar. Kita perlu mendengarkan hati kecil kita bahkan harus, sebab itulah dayung yang akan menggerakkan perahu kita untuk menjalani panjangnya kehidupan.

Kita harus perduli dengan diri kita sendiri. Terlebih dengan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh diri kita. Kita memerlukan kebahagiaan. Dan kita harus mencapai kebahagiaan. Namun kita harus sadar, di dunia ini tidak ada yang instan. Kita juga harus paham bahwa tiap-tiap jalan untuk memperoleh kebahagiaan selalu di kelilingi cobaan, entah itu duri-duri kecil atau bebatuan terjal.

Kita harus ekstra keras dalam berusaha dan bersyukur. Kita tidak boleh menyepelekan setiap masalah dan tidak boleh menyerah. Kita harus menyelesaikan masalah sampai benar-benar tuntas. Adanya masalah besar berawal dari masalah yang kecil.

Perlu kita tahu, terkadang masalah kecil mengandung hikmah yang besar dan masalah yang besar juga mengandung hikmah yang lebih besar. Itu semua ketentuan Allah. Kita sebagai tokoh dalam sebuah naskah hanya harus tunduk dan patuh kepada Sang Sutradara.

Allah mengharamkan kita untuk berputus asa, karena Allah tidak akan menyia-nyiakan usaha setiap hamba. Jika kita belum menemui keberhasilan, Allah tetap akan memberi balasan yang setimpal terhadap apa yang telah kita usahakan.

Seberapa berat masalah yang kita terima, itulah derajat kita. Kita harus terus melakukan yang terbaik yang sesuai kapasitas kemampuan kita. Meskipun yang menurut kita baik, belum tentu baik di mata Allah. Kita harus terus  ikhtiar, berdoa dan bertawakal, maka segalanya pasti akan menjadi lebih baik.

ULUMUL QUR'AN DAN SEJARAHNYA

ULUMUL QUR'AN DAN SEJARAHNYATUGAS MANDIRIMAKALAH ‘ULUM AL-QUR’AN‘ULUM AL-QUR’AN DAN SEJARAHNYA

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah ‘Ulum Al-Qur’anDosen Pengampu : Dra. Hj. Sun Fatayati. MM

Disusun Oleh : Winaldi Dwi Yahya
Npm : 170300684

INSTITUT AGAMA ISLAM TRIBAKTI FAKULTAS DAKWAH PRODI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM TAHUN 2017

BAB I
PENDAHULUANA.
     Latar BelakangAl-Qur’an adalah sumber hukum Islam yang pertama. sehingga kita hendaknya harus dapat memahami tentang kandungan di dalamnya. Al-Qur’an dengan huruf-hurufnya, bab-babnya, surat-suratnya dan ayat-ayatnya yang sama di seluruh dunia, baik di Jepang, Brasilia, Iraq dan lain-lain. Andaikata ia bukan dari allah Swt, tentu terdapat perbedaan yang banyak.Al-Qur’an adalah laksana sinar yang memberikan penerangan terhadap kehidupan manusia, bagaikan pelita yangmemberikan cahaya kearah hidayah ma’rifah. Al-Qur’an juga adalah kitab hidayah dan ijaz (melemahkan yang lain). Ayat-ayatnya tentu ditetapkan kemudian diperinci dari Allah SWT yang maha bijaksana dan maha mengetahui.Oleh karena itu kita sebagai umat Islam harus benar-benar mengetahui kandungan-kandungan yang ada didalamnya dari berbagai aspek. ‘Ulum Al-Qur’an adalah salah satu jalan yang bisa membawa kita dalam memahami kandungan Al-Qur’an.Selain memahami Al-Qur’an kita juga perlu mengetahui bagaimana perkembangan ‘Ulum Al-Qur’an dan siapa saja tokoh-tokoh yang menjadi pendongkrak munculnya ‘Ulum Al-Qur’an. Secara tidak langsung pemikiran merekalah yang mengilhami kita dalam memaham Al-qur’an.B.Rumusan Masalah1.Apa pengertian ‘Ulum Al-Qur’an?2.Apa objek pembahsan ‘Ulum Al-Qur’an?3.Bagaimana perkembangan ‘Ulum Al-Qur’an?4.Bagaimana metode penulisan ‘Ulum Al-Qur’an?5.Apa tujuan ‘Ulum Al-Qur’an?

BAB II
PEMBAHASANA.
     Pengertian ‘Ulum Al-Qur’an dan Objek BahasannyaPengertian ‘Ulum Al-Qur’anKata ‘Ulum Al-Qur’an tersusun dari dua kata secaraidhafi, yaitu kata ulum yang dimudhafkan kepada kata Al-Qur’an. Pertama-tama akan dibahas kedua unsur itu, yaitu makna kataulumul dan Al-Qur’an. Kemudian akan dibahas pula pengertian‘Ulum Al-Qur’an.

1.Arti Kata ‘Ulum

  Kata ulum secara etimoligi adalah jamak dari kata ‘ilmu. Menurut bahasa kata ‘ilmu adalah masdar yang maknanya sinonim dengan paham dan makrifat. Menurut sebagian pendapat, kata ilmu itu merupakan isim jinis yang berarti pengetahuan. Kemudian pengertian kata ilmu ini berkembang dalam berbagai istilah dan dipakai sebagaimana dari pengetahuan tentang Al-Qur’an ini.[1]

2. Arti kata Al-Qur’an

Al-Qur’an secara bahasa berasal dari bahasa Arab قَرأ- يقرأ- قران yang artinya bacaan. Sedangkan secara istilah sebagaimana didefinisikan ulama ushul, ulama fiqih, dan ulama bahasa, Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang lafazh-lafazhnya mengandung mukjizat,  melalui malaikat Jibril, diturunkan seacra mutawatir, dan mebacanya mempunyai nilai ibadah.Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa dilihat dari segi makna (ta’rif), ‘Ulum Al-Qur’an mempunyai dua makna, yaitu maknaidhafidan makna‘alam(nama diri).

a. Makna idhafi
     Bergandengnya kata ‘Ulum dengan kata Al-Qur’an menunjukkan adanya penjelasan tentang jenis-jenis ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan Al-Qur’an; ilmu yang bersangkutan dengan pembelaan tentang keberadaan Al-Qur’andan permasalahannya; berkenaan dengan proses hukum yang terkandung di dalamnya; berkenaan dengan penjelasan bentuk mufradatnlafal Al-Qur’an; Al-Qur’an sebagaiway of lifedalam memasuki dinamika kehidupan ; hukum-huku pidana dan sebagainya.Setiap ilmu pengetahuan yang berkenaan dengan itu semua brsumber pada Al-Qur’an dan sebagai slah satu metode untuk menegtahui kemukjizatan Al-Qur’an, seperti ilmu-ilmu Tafsir, Tajwid, Nasikh-MAnsukh, Fiqh, Tauhid, Fara’id, Tata Bahasa dan lain-lain. Bahkan sebagian ulama ada yang memperluas jangkauan ilmu pengetahuan di luar lingkup ‘Ulum Al-Qur’an, yakni ilmu-ilmu Desain, Falak, Matematika, Teknik, Kedokteran, dan lain-lain.Esensi Al-Qur’an penuh dengan titah riset dan ilmu pengetahuan, namun tidak memasukkan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan riset dan ilmu alamiyah ke dalam bagian dari ‘Ulum Al-Qur’an. Karena riset dan ilmu kealaman bersifat umum yang dianjurkan Al-Qur’an, sedangkan ilmu-ilmu yang termasuk kategoei ‘Ulum Al-Qur’an adalah ilmu-ilmu yang khusus dan secara spesifik menjelaskan keberadaan Al-Qur’an dan ketetapan hukum yang terdapat di dalamnya.Maka yang diamksud dengan ‘Ulum Al-Qur’an dalam pengertianidhafiadalah “semua unsur ilmu pengetahuan yang berkenaan dengan pengetahuan agama dan tata bahasa Arab”.b.Makna‘Alam(Metodologi Kodifikasi)Apabila maknaidhafidi transformasikan ke dalam makna ‘alamiyah maka ilmu yang bersangkutan disebut sebagai cabang ilmu yang membicarakan metodologi kedifikasi ilmu-ilmu Al-Qur’an, dan objeknya menjadi lebih khusus dibandingkanobjek ‘Ulum Al-Qur’an ditinjau dari segi maknaidhafi.Oleh karena itu, definisi ‘Ulum Al-Qur’an ditinjau dari makna‘alamadalah “suatu ilmu yang membahas Al-Qur’an yang berkaitan dangan tujuan diturunkan, upaya pengumpulan bacaan, penafsiran, nasikh-mansukh, asbab an-nuzul, ayat-ayat makkiyan dan madaniyah dan lain-lain.‘Ulum Al-Qur’an ditinjau dari segi‘alamdinamakan juga Ushul at-tafsir (pokok-pokok ilmu tafsir) karena mencakup beberapa ilmu yang menjadi syarat utama bagi para mufassir agar terlebih dahulu dipelajari, dipahami dan dikaji secara detail.[2]Mengenai kemunculan istilah ‘Ulum Al-Qur’an untuk pertama kalinya, para penulis menyatakan bahwa istilah ini muncul pada abad VI H oleh Abu Al-Farj bin Al-Jauzi. Pendapat ini disitir pula oleh Asy-Suyuthi dalam pengantar kitab al-Itqan. Al-Zarqani mengatakan bahawa istilah itu muncul pada awal abad V H melalui tangan Al-Hufi (w. 430 H) dalam karyanya yang berjudul Al-Burhan fi ‘Ulum Al-Qur’an.Objek Pembahasan ‘Ulum Al-Qur’anMengingat banyaknya ilmu yang ada kaitan dengan pembahasan Al-Qur’an, ruang lingkup pembahasan ‘Ulmu Al-Qur’an itu jumlahnya sangat banyak. Bahkan menurt Abu Bakar Al-‘Arabi, ilmu-ilmu Al-Qur’an itu mencapai 77.450. Hitungan ini diperoleh dari hasil perkalian jumlah kalimat Al-Qur’an dengan empat, karena masing-masing kalimat mempunyai makna zhahir, batin, had, dan mathla’. Jumlah ituakan semakin bertambah jika melihat urutan kalimat di dalamAl-Qur’an serta hubungan antarurutan itu. Jika sisi itu yang dilihat, ruang lingkup pembahasan ‘Ulum Al-Qur’an tidak akandapat dihitung (tak terhingga lagi) lagi.Berkenaan dengan persoalan ini, M. Hasbi As-Shiddieqy berpendapat bahwa ruang lingkup pembahasan ‘Ulum Al-Qur’an terdiri dari enam hal pokok berikut ini :1.Persoalan Turunnya Al-Qur’an (Nuzul Al-Qur’an)Persoalan ini menyangkut tiga hal :a.Waktu dan tempat turunnya Al-Qur’an (auqat nuzul wa mawathin an-nuzul)b.Sebab-sebab turunnya Al-Qur’an (asbab an-nuzul)c.Sejarah turunnya Al-Qur’an (tarikh an-nuzul)2.Persoalan Sanad (Rangkaian Para Periwayat)persoalan ini menyangkut enam hal :a.Riwayat mutawatirb.Riwayat ahadc.Riwayat syadzd.Macam-macam qira’at Nabie.Para perawi dan penghapal al-Qur’anf.Cara-cara penyebaran riwayat (tahammul)3.Persoalan Qira’at (Cara Pembacaan Al-Qur’an)Persoalan ini menyangkut hal-hal berikut ini :a.Cara berhenti (waqaf)b.Cara memulai (ibtida’)c.Imalahd.Bacaan yang dipanjangkan (madd)e.Meringankan bacaan hamzahf.Memasukkan bunyi huruf yang sukun kepada bunyi sesudahnya (idhgam)4.Persoalan Kata-Kata Al-Qur’anPersoalan ini menyangkut beberapa hal berikut :a.Kata-kata Al-Qur’an yang asing (gharib)b.Kata-kata al-Qur’an yang berubah-ubah harakat akhirnya (mu’rob)c.Kata-kata Al-Qur’an yang mempunyai makna serupa (homonym)d.Padanan kata-kata al-Qur’an (sinonim)e.Isti’arahf.Penyerupaan (tasybih)5.Persoalan Makna-Makna Al-Qur’an Yang Berkaitan Dengan HukumPersoalan ini menyangkut hal-hal berikut :a.Makan umum (‘am) yang tetap dalam keumumannyab.Makan umum (‘am) yang dimaksudkan makna khususc.Makan umum (‘am) yang maknanya dikhususkan sunnahd.Nashe.Makna lahirf.Makna global (mujmal)g.Makan yang diperinci (mufashshal)h.Makna yang ditunjukkan oleh konteks pembicaraan (manthuq)i.Makan yang dapat di pahami dari konteks pembicaraan (mafhum)j.Nash yang petunjukknya tidak melahirkan keraguan (muhkam)k.Nash yang muskil ditafsirkan karena terdapat kesamaran di dalamnya (mutasyabih)l.Nash yang maknanya tersembunyi karena suatu sebab yang terdapat pada kata itu sendiri (musykil)m.Ayat yang menghapus dan dihapus (nasikh-mansukh)n.Yang didahulukan (muqaddam)o.Yang diakhirkan (mu’akhakhar)6.Persoalan Makna-Makna Al-Qur’an Yang Berpautan dengan Kata-Kata Al-Qur’anPersoalan ini menyangkut hal-hal berikut :a.Berpisah (fashl)b.Bersambung (washl)c.Uraian singkat (i’jaz)d.Uraian panjang (ithnab)e.Uraian seimbang (musawah)f.Pendek (qashr)B.Sejarah Perkembangan ‘Ulum Al-Qur’an1.Fase Sebelum Kodifikasi (Qabl ‘Ashr At-Tadwin)Pada fase sebelum kodifikasi, ‘Ulum Al-Qur’an kurang lebih sudah merupakan benih yang kemunculannya sangat dirasakan semenjak Nabi masih ada. Hal itu ditandai dengan kegairahan para sahabat untuk mempelajari Al-Qur’an dengan sungguh-sungguh. Terlebih lagi, diantara mereka sebagaimana diceritakan oleh Abu Abdurrahman As-Sulami, ada kebiasaan untuk tidak berpindah kepada ayat lain, sebelum dapat benar-benar memahami dan mengamalkan ayat yang sedang dipelajarinya. Mereka mempelajari sekaligus mengamalkan ayat yang sedang dipelajarinya. Tampaknya, itulah sebabnya mengapa Ibn ‘Umar memmerlukan waktu delapan tahun hanya untuk menghapal surat Al-Baqarah.Kegairahan para sahabat untuk mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an tampaknya lebih kuat lagi ketika Nabi hadir di tengah-tengah mereka. Hal inilah yang kemudianmendorong Ibn Taimiyyah untuk mengatakan bahwa nabi sudahmenjelaskan apa-apa yang menyangkut penjelasan Al-qur’an kepada para sahabatnya.2.Fase KodifikasiPada fase sebelum kodifikisi, ‘Ulum Al-Qur’an juga ilmu-ilmu lainnya  belum dikodifikasikan dalam bentuk kitab atau mushaf. Satu-satunya yang sudah dikodifikasikan saat ituadalah Al-Qur’an. Fenomena itu terus berlangsung sampai ketika ‘Ali bin Abi Thalib memerintahkan Abu Al-Aswad Ad-Dauli untuk menulis ilmu nahwu. Perintah ‘Ali inilah yang membuka gerbang pengodifikasian ilmu-ilmu agama dan bahasa Arab. Pengodifikasian itu semakin marak dan meluas ketika Islam berada pada tangan pemerintahan Bani Umayyah dan Bani ‘Abbasiah pada periode-periode awal pemerintahannya.a.Perkembangan ‘Ulum Al-Qur’an Abad II H Tentang masa penyusunan ilmu-ilmu agama yang dimulai sejak permulaan abad II H, para ulama memberikan prioritas atas penyususnan tafsir sebab tafsir merupakan induk ‘Ulum Al-Qur’an. Di antara ulama abad II H yang menyusun tafsir adalah:1)Syu’bah Al-Hajjaj (wafat tahun 160 H)2)Sufyan bin ‘Uyainah (wafat tahunn198 H)3)Muqatil bin Sulaiman (wafat tahun 150 H).b.Perkembangan ‘Ulum Al-Qur’an Abad III HPada abad III H selain tafsir dan ilmu tafsir, para ulama mulaimenyusun pula beberapa ilmu Al-Qur’an, di antaranya:1)‘Ali bin Al-Madani (w. 234 H), gururnya imam Al-Bukhari yang menyusun ilmu Asbab An-Nuzul2)Abu Ubaid Al-Qasimi bin Salam (w. 224 H) yang menyusun ilmu Nasikh wa Al-Mansukh, ilmu Qira’at, dan Fadha’il Al-Qur’an3)Muhammad bin Ayyub Adh-Dhurraits (w. 294 H) yang menyusun ilmu Makki wa Al-Madani4)Muhammmad bin Khalaf Al-Marzuban (w. 309 H) yang menyusun kitab Al-Hawi fi ‘Ulum Al-Qur’an.c.Perkembangan ‘Ulum Al-Qur’an Abad IV HPada abad IV H mulai disusun ilmu Gharib Al-Qur’an dan beberapa kitab ‘Ulum Al-Qur’an dengan memaknia istilah ‘Ulum Al-Qur’an. Di antara ulam yang menyusun ilmu-ilmu ituadalah:1)Abu Bakar As-Sijistani (w. 330 H) yang menyusun kitab Gharib Al-Qur’an2)Abu Bakar Muhammad bin Al-Qasim Al-Anbari (w. 328 H)yang menyusun kitab ‘Aja’ib ‘Ulum Al-Qur’an. Di dalam kitab itu ia menjelaskan perihal tujuh huruf (sab’ah ahruf), penulisan mushaf, jumah bilangan surat, ayat-ayat dan surat-surat dalam Al-Qur’an.3)Abu Al-Hasan Al-Asy’ari (w. 324 H) yang menyusun kitab Al-Mukhtazan fi ‘Ulum Al-Qur’an.d.Perkembangan ‘Ulum Al-Qur’an Abad V HPada abad ini mulai disusun ilmu I’rab Al-Qur’an dalam satu kitab. Di samping itu, penulisan kitab-kitab ‘Ulum Al-Qur’an masih terus dilakukan oleh ulama masa ini. Di antara ulama yang berjasa dalam pengembangan ‘Ulum Al-Qur’an pada masaini adalah:1)‘Ali bin Ibrahim bin Sa’id Al-Hufi (w. 430 H), selain memelopori penyusunan I’rab Al-qur’an, ia pun menyusun kitab Al-Burhan fi ‘UlumAl-qur’an. Kitab ini selain menafsirkan Al-Qur’an seluruhnya, juga mnerangkan ilmu-ilmu Al-Qur’an yang ada hubungannya dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang ditafsirkan.2)Abu ‘Amr Ad-Dani (w. 444 H) yang menyusun kitab At-Tafsir fi Qira’at As-Sab’I dan kitab Al-Muhkam fi An-Naqth.e.Perkembangan ‘Ulum Al-Qur’an Abad VI HPada abad ini terdapat ulama yang mulai menyusun Ilmu Mubhamat Al-Qur’an, di antaranya adalah:1)Abu Al-Qasim bin ‘Abdurrahman As-Suhaili (w. 581 H) yang menyusun kitab Mubahmat Al-Qur’an. Kitab ini menjelaskan maksud kata-kata Al-Qur’an yang tidak jelas, apaatau siapa yang dimaksudkan.2)Ibn Al-Jauzi (w. 597 H) yang menyusun kitab Funun Al-Afnan fi’Ajaib Al-Qur’an dan kitab Al-Mujtaba’ fi ‘Ulum Tata’allaq bi Al-Qur’an.f.Perkembangan ‘Ulum Al-Qur’an Abad VII HPada abad ini ilmu-ilmu Al-Qur’an terus berkembang dengan mulai tersusunnya ilmu Majaz Al-Qur’an dan Ilmu Qira’at. Diantara ulama abad VII yang besar perhatiannya terhadap ilmu-ilmu ini adalah:1)Alamuddin As-Sakhawi (w. 643 H), kitabnya mengenai ilmu Qira’at dinamai Hidayat Al-Murtab fi Mutasyabih.2)Ibn ‘Abd As-Salam yang terkenal dengan nama Al-‘Izz (w. 660 H) yang memelopori penulisan ilmu Majaz Al-Qur’an dalam satu kitab.g.Perkembangan ‘Ulum Al-Qur’an Abad VIII HPada abad ini muncullah beberapa ulama yang menyusun ilmu-ilmu baru tentang Al-Qur’an, sedangkan penulisan kitab-kitab tentang Ulum Al-Qur’an terus berjalan, diantara mereka adalah:1)Ibn Abi Al-Isba’ yang menyusun ilmu Bada’i Al-Qur’an suatu ilmu yang membahas macam-macam badi’ (keindahan bahasa dan kandungan Al-Qur’an) dalam Al-Qur’an.2)Ibn Al-Qayyim yang menyusun ilmu Aqsam Al-Qur’an, suatu ilmu yang membahas sumpah-sumpah yang terdapat dalam Al-Qur’an.3)Najmuddin Ath-Thufi yang menyusun ilmu Hujaj Al-Qur’an atau ilmu Jadal  Al-Qur’an, suatu ilmu yang membahas bukti-bukti atau argumentasi-argumentasi yang dipakai Al-Qur’an untuk menetapkan sesuatu.h.Perkembangan ‘Ulum Al-Qur’an Abad IX dan X HPada abad IX dan permulaan abad X H, makin banyak karanganyang ditulis ulama tentang ‘Ulum Al-Qur’an. Pada masa in perkembangan ‘Ulum Al-Qur’an mencapai kesempurnaannya. Diantara ulama yang menyusun ‘Ulum Al-Qur’an pada masa iniadalah:1)Jalaluddin Al-Bulqini (w. 824 H) yang menyusun kitab Mawaqi’ Al-‘Ulum min Mawaqi’ An-Nujum. Al-Bulqini ini dipandang Asy-Suyuthi sebagai ulama yang memelopori penyusunan kitab Ulum Al-Qur’an yang lengkap. Dan di dalam kitabnya itu telah dimuat 50 macam persoalan ‘Ulum Al-Qur’an.2)Muhammad bin Sulaiman Al-Kafiyaji (w. 879 H) yang menyusun kitab At-Tafsir fi Qawa’id At-Tafsir. Karya itu sebagaimana dikatakan penulisnya, berbeda dengan karya-karya sebelumnya. Kitab ini sangat tipis terdiri dari dua bab dan penutup. Bab pertama menjelaskan makna tafsir, takwil, Al-Qur’an, surat, dan ayat. Bab kedua menjelaskan syarat-syarat penafsiran bi al-ra’yi yang dapat diterima, sedangkan kgatimahnya berisi etika-etika guru dan murid.i.Perkembangan ‘Ulum Al-Qur’an Abad XIV HSetelah memasuki abad XIV H, bangkitlah kembali perhatian ulama dalam penyusunan kitab-kitab yang membahas Al-Qur’an dari berbagai segi. Kebangkitan ini diantaranya dipicu oleh kegiatan ilmiah di Universitas Al-Azhar Mesir, terutama ketika universitas ini membuka jurusan-jurusan bidang studi yang menjadikan tafsir dan hadis sebagai salah satu jurusannya.Diantara karya-karya ‘Ulum Al-Qur’an yang lahir pada abad iniadalah:1)Syeikh Thahir Al-Jazairi yang menyusun kitab At-Tibyan fi ‘Ulum Al-Qur’an yang selesai pada tahun 1335 H.2)Jamaluddin Al-Qasimy (w. 1332 H) yang menyusun kitab Mahasin Al-Ta’wil. Juz pertama kitab ini dikhususkan untuk pembicaraan ‘Ulum Al-Qur’an.3)Ustadz Malik bin Nabi yang menyusun kitab Az-Zhahirah Al-Quraniyah. Kitab ini sangat penting dan banyak berbicara mengenai wahyu.4)Syekh Muhammad Musthafa Al-Maraghi yang menyusun sebuah risalah yang menerangkan kebolehan kita menerjemahkan Al-Qur’an. Ia pun menulis kitab Tafsir Al-Maraghi.[3]C.Metode Penulisan dan Tujuan ‘Ulum Al-Qur’anMetode Penulisan Ulumul Al-Qur’anPembahasan yang dipakai dalam ‘Ulum Al-Qur’an ialah metode deskripif, yaitu dengan cara memberikan penjelasan dan keterangan yang mendalam mengenai bagian-bagian  Al-Qur’an yang mengandung aspek-aspek ‘Ulum Al-Qur’an. Misalnya, orang yang membahas Ilmu Majazil Qur’an, maka dia mengambil lafal-lafal Al-Qur’an yang majaz, lalu dijelasakan dngan panjang lebar bentuk-bentuk lafal majaz dan segala macamnya.Dengan cara demikian itu, maka banyaklah tersusun kitab-kitab tentang ilmu Al-Qur’an dalam berbagai bidang dancabang-cabangnya yang merupakan karya-karya besar dan bermutu tinggi dari hasil usaha-usaha perintis-perintis pertumbuhan cabang-cabang ‘Ulum Al-Qur’an,  dan yang dikenal dengan ‘Ulum Al-Qur’an dengan arti idhafi. Pertumbuhan cabang-cabang V itu terjadi sejak abad II H hingga sampai abad VII H yang menghasilkan kitab-kitab tentang ilmu-ilmu Al-Qur;an dan berbagai disiplin pebahasan ilmu.Oleh para ulama abad V / VII H itu, beberapa pembahasan dari berbagai kitab-kitab ‘Ulum Al-Qur’an idhafi itu kemudian diintegrasikan (digabungkan) menjadi satu ilmu/ satu pembahasan yang merupakan kumpulan dari seluruh cabang-cabang ilmu tentang Al-Qur’an itu, yang kemudian dikenal sebagai ‘Ulum Al-Qur’an yang mudawwan atau yang sudah sistematis.Dengan demikian, pertumbuhan ‘Ulum Al-Qur’an dan metode pembahasannya adalah secara diskusi, yaitu tumbuh dan membahas hal-hal yang khusus terlebih dahulu, baru kemudian ilmu itu digabungkan menjadi satu, lalu membahas hal-hal yang umum. Sebab, yang timbul lebih dahulu adalah cabang ‘Ulum Al-Qur’an yang masih idhafi, yang masing-masing berdiri sendiri-sendiri.tiap-tiap cabang hanya membicarakan Al-qur’an dari segi-segi khusus,menjadi bidangpembahasannya, yang sesuai dengan nama dan sebutannya masing-masing.Cabang ilmu Nasikh—Mansukh misalnya,hanya membicarakan Al-qur’an khusus dalam soal nasakh-mansukh itu. Ilmu Muhkam wal Mutasyabih pun hanyamembahas Al-qur’an khusus dari segi kemuhkaman atau kemutasyabihanlafal-lafal Al-qur’an. Tapi setelah cabang-cabang itu diintegrasikan menjadi satu ilmu, lalu timbul Ulumul Qur’an  yang Mudawwan atau Ulumul Qur’an yang sistematis,barulah pembahasanya secara umum dan menyeluruh,yang meliputi seluruh segi-segi kitab suci Al-qur’an. Disamping itu, dalam Ulumul Qur’an  yang Mudawwan,setelah ilmu itu membahas semua segi Al-Qur’an,maka selain memakai metode deduksi , kiranya jugamemakai metode komperasi,yaitu dengan cara memperbandingkan  segi yang satu dengan yang lain,riwayat sebab turun ayat yang satu dengan riwayat yang lain, dan pendapat ulama yang satu dengan yang lainnya,dan sebagainya.Jadi,mula-mula dalam ilmu-ilmu cabang memakai metode deskripsi,kemudian Ulumul Qur’an yang Mudawwan menggunakan metode  deduksi dan komperasi.Tujuan ‘Ulumul Qur’anTujuan mempelajari Ulumul Qur’an ialah untuk memcapai hal-hal sebagai berikut :a.)Untuk mengetahui secara ihwal kitab al-qur’an sejak dari turunnya wahyu yang pertama kepada nabi Muhammad SAW, sampai keadaan kitab itu hingga sekarang. Sebab,dengan ulumul quran itu akan bisa diketahui bagaimana wahyu al-quran itu turun dan diterima oleh nabi Muhammad SAW, dan bagaimana beliau menerima dan membacanya,serta bagaimana beliau mengajarkannya kedapa para sahabat serta menerangkan tafsiran  ayat-ayatnya kepada mereka. Dan dengan ilmu itu dapat diketahui pula perhatian umat islam terhadap kitab sucinya pada tiap-tiap abad serta usaha-usaha mereka dalam memelihara, menghafalkan,menafsirkan dan mengistimbatkan hukum-hukum ajaran al-qur’an ,dan sebagainya.b.)Untuk dijadikan alat bantu dalam membaca lafal ayat-ayatnya,memahami isi kandungannya,menghayati dan mengamalkan aturan-aturan/hukum ajarannya serta untuk menyelami rahasia dan hikmah disyariatkannya sesuatu peraturan/hukum dalam kitab itu. Sebab, hanya dengan mengetahui dan menguasai pembahasan-pembahasan ulumul qur’an inilah, orang baru akan bisa membaca lafal ayat-ayatnya dengan baik,sesuai dengan aturan. Dan dengan ulumul qur’an itu pula, orang akan bisa mengerti isi kandungan al-qur’an, baik yang berupa segi-segi kemukjizatannya, atau segi hukum-hukum petunjuk ajarannya,sesuai dengan keterangan-keterangan dari ilmu I’jazil  qur’an,ilmu tafsisril qur’an,dan ilmu ushulil fiqh,yang juga berupa bidang-bidang pembahasan dari ulumul qur’an itu.c.)Untuk dijadikan senjata pamungkas guna untuk melawan orang-orang non-muslim  yang mengingkari kewahyuan  Al-Qur’an dan membantah tuduhan orang-orang orientalis,yangmenyatakan tentang sumber-sumber al-qur’an  itu dari Muhammad SAW. Atau dari orang-orang tertentu,yang tiap-tiap abad ada raja orang yang melemparkan tuduhan-tuduhan keji terhadap kesucian kitab Al-Qur’an . kalau umat islam berkewajiban membela agamanya,jelaskan kewajiban pertama yang harus dibelanya ialah membela eksistensi   dan fungsi kitab sucu ini,dengan mempertahankan kesucian,kemuliaan dan kegunaannya.Syeikh Ali Ash-Shabuni dalam kitabnya At-Tibyan Fi ‘Ulumil Al-Qur’an menerangkan, tujuan mempelajari ‘Ulumul Al-Qur’an Adalah agar dapat memahami maksud Kalam Allah SWT sesuai keterangan dan penjelasan dari Nabi Muhammad SAW dan dari tafsiran-tafsiran para sahabat serta tabi’in terhadap ayat-ayat suci Al-Qur’an dan di dalam menerangkan syarat-syarat bagi para mufassir dan sebagainya.[4]D.Penulisan Kitab-Kitab Ulumul Qur’an1.Abad kedua hijriaha.Muhammad bin Khalaf Al-Marzuban, kitabnya adalah Al-Hawi fi ‘Ulum Al-Qur’an2.Abad ketiga hijriaha.Ali ibn Al-Madiny, beliau menyusun kitab dalam ilmu AsbabAn-Nuzul.b.Abu Ubaid Al-Qasim ibn Salam, beliau menyusun kitab tentang ilmu Nasikh wa Al-Mansukh, ilmu Al-Qira’at dan tentang ilmu Fadha’ilul Al-Qur’an.3.Abad keempat hijriaha.Abu BAkar Muhammad ibn Al-Qasim Al-Anbary, kitabnya bernama Ajaibu Ulumil Qur’an. Membahas tentang fadhailul Qur’an, turunnya Al-Qur’an atas tujuh huruf, tentang menulis mushaf dan bilangan surat, ayat dan kalimat.b.Abu Hasan AL-Asy’ari, kitabnya bernama Al-Mukhtazan fi Ulumil Qur’an.c.Abu Bakar As-Sijistany, kitabnya bernama Gharibul Qur’an.4.Abad kelima hijriaha.Abu Amar Ad-Dany, kitabnya bernama At-Tafsir bil Qira’atisSab’i, dan Al-Muhkamu fin Nuqath.b.Ali ibn Ibrahim ibn Said Al Hufy, yang kitbnya bernama Al-Burhan fi Ulumil Qur’an dan I’rabul Qur’an.Diantara ilmu yang lahir pada abad ini adalah ilmu Amtsalul Qur’an.5.Abad keenam hijriaha.Abdul Qasim Abdur Rahman, kitabnya bernama Muhammatul Qur’anb.Ibnu JAuzy, kitabnya bernama Fununul Afnan ‘Ajaibu Ulumil Qur’an.6.Abad ketujuh hijriaha.Alamuddin As-Sakhawy, kitabnya bernama Hidayatul Murtabfil Mutasyabihib.Ibnu Abdis Salam, kitabnya adalah Majazul Qur’anc.Abu syamah Abdur Rahman ibn Ismail Al-Maqdisy, kitabnyaadalah Musyidatul Wajiz fima Yata’allaqu bil Qur’anil Aziz.7.Abad kedelapan hijriaha.Badruddin Az-Zarkasyi, kitabnya bernama Al-Burhan fi Ulumil Qur’an.b.Taqiyyudin Ahmad bin Taimiyah al-Harrani, kitabnya adalah Ushul Al-Tafsir8.Abad kesembilan hijriaha.Muhammad ibn Sulaiman Al-Kafiyaji, kitabnya adalah At-Tafsir fi Qawaidit tafsirb.Jalaludidin Al-Bulqany, kitabnya adalah Mawaqi’ul Ulum min Mawaqi’in Nujumc.As-Sayuhy, kitabnya adalah At-Tahbir fi Ulumit Tafsir9.Abad keempat belas hijriaha.As-Syeikh Tahir Al Jazairy, kitabnya bernama At-Tibyan fi Ba’dhil MAhabitsi Al-Muta’alliqati bil Qur’anb.Jamaludidin Al-Qasimy, kitabnya bernama Mahasitut Takwilc.Muhammad Abdul Azim Az-Zarqany, kitabnya adalah Manahilul Irfan fi Ulumil Qur’an.[5]

BAB III
PENUTUP
     A.Simpulan
1.‘Ulum Al-Qur’an dapat dimaknai dari makna idhafi dan makna ‘alam:‘Ulum Al-Qur’an dalam pengertian idhafi adalah “semua unsur ilmu pengetahuan yang berkenaan dengan pengetahuan agama dan tata bahasa Arab”.‘Ulum Al-Qur’an ditinjau dari makna ‘alam dinamakan juga Ushul at-tafsir (pokok-pokok ilmu tafsir) karena mencakup beberapa ilmu yang menjadi syarat utama bagi paramufassir agar terlebih dahulu dipelajari, dipahami dan dikaji secara detail.2.Objek pembahsan ‘Ulum Al-Qur’an adalaha.Persoalan Turunnya Al-Qur’an (Nuzul Al-Qur’an)b.Persoalan Sanad (Rangkaian Para Periwayat)c.Persoalan Qira’at (Cara Pembacaan Al-Qur’an)d.Persoalan Kata-Kata Al-Qur’ane.Persoalan Makna-Makna Al-Qur’an Yang Berkaitan Dengan Hukumf.Persoalan Makna-Makna Al-Qur’an Yang Berpautan dengan Kata-Kata Al-Qur’an.3.Perkembangan ‘Ulum Al-Qur’ana.Fase Sebelum Kodifikasi (Qabl ‘Ashr At-Tadwin)Pada fase sebelum kodifikasi, ‘Ulum Al-Qur’an kurang lebih sudah merupakan benih yang kemunculannya sangat dirasakan semenjak Nabi masih ada. Hal itu ditandai dengan kegairahan para sahabat untuk mempelajari Al-Qur’an dengan sungguh-sungguh. Terlebih lagi, diantara mereka sebagaimana diceritakan oleh Abu Abdurrahman As-Sulami, ada kebiasaan untuk tidak berpindah kepada ayat lain, sebelum dapat benar-benar memahami dan mengamalkan ayat yang sedang dipelajarinya. Mereka mempelajari sekaligus mengamalkan ayat yang sedang dipelajarinya. Tampaknya, itulah sebabnya mengapa Ibn ‘Umar memmerlukan waktu delapan tahun hanya untuk menghapal surat Al-Baqarah.Kegairahan para sahabat untuk mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an tampaknya lebih kuat lagi ketika Nabi hadir di tengah-tengah mereka. Hal inilah yang kemudianmendorong Ibn Taimiyyah untuk mengatakan bahwa nabi sudahmenjelaskan apa-apa yang menyangkut penjelasan Al-qur’an kepada para sahabatnya.b.Fase KodifikasiPada fase sebelum kodifikisi, ‘Ulum Al-Qur’an juga ilmu-ilmu lainnya  belum dikodifikasikan dalam bentuk kitab atau mushaf. Satu-satunya yang sudah dikodifikasikan saat ituadalah Al-Qur’an. Fenomena itu terus berlangsung sampai ketika ‘Ali bin Abi Thalib memerintahkan Abu Al-Aswad Ad-Dauli untuk menulis ilmu nahwu. Perintah ‘Ali inilah yang membuka gerbang pengodifikasian ilmu-ilmu agama dan bahasa Arab. Pengodifikasian itu semakin marak dan meluas ketika Islam berada pada tangan pemerintahan Bani Umayyah dan Bani ‘Abbasiah pada periode-periode awal pemerintahannya.4.Metode penulisan ‘Ulum Al-Qur’anMula-mula dalam penulisan ‘Ulum Al-Qur’an adalah memakai metode deskripsi,kemudian Ulumul Qur’an yang Mudawwan menggunakan metode  deduksi dan komperasi.5.Tujuan ‘Ulum Al-Qur’ana.Untuk mengetahui secara ihwal kitab al-qur’an sejak dari turunnya wahyu yang pertama kepada nabi Muhammad SAW, sampai keadaan kitab itu hingga sekarang.b.Untuk dijadikan alat bantu dalam membaca lafal ayat-ayatnya,memahami isi kandungannya,menghayati dari mengamalkan aturan-aturan/hukum ajarannya serta untuk menyelami rahasia dan hikmah disyariatkannya sesuatu peraturan/hukum dalam kitab itu. Sebab, hanya dengan mengetahui dan menguasai pembahasan-pembahasan ulumul qur’an inilah, orang baru akan bisa membaca lafal ayat-ayatnya dengan baik,sesuai dengan aturan.c.Untuk dijadikan senjata pamungkas guna untuk melawan orang-orang non-muslim  yang mengingkari kewahyuan  Al-Qur’an dan membantah tuduhan orang-orang orientalis,yangmenyatakan tentang sumber-sumber al-qur’an  itu dari Muhammad SAW.B.SaranDemikianlah makalah ini kami susun, semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca. Dalam pembuatan makalah ini tentunya masih jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kritik dan saran dari semua pihak kami harapkan agar makalah yang kami buat selanjutnya jauh lebih baik..

DAFTAR PUSTAKA

  Abdul Djalal H. A. 2013. Ulumul Qur’an. Dunia Ilmu: Surabaya.
Fahd bin Abdurrahman Ar-Rumi. 1996.Ulumul Qur’an. Titian Ilahi Press: Yogyakarta.
Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy. 2013. Ilmu-Ilmu Al-Qur’an (‘Ulum al-Qur’an). Pusataka Rizki Putra: Semarang.
Rosihon Anwar. 2013.Ulum Al-Qur’an. Pustaka Setia: Bandung .

PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN DAN MACAM-MACAM TIPOLOGINYA

BAB I
PENDAHULUAN
A.          Latar Belakang
Psikologi perkembangan merupakan cabang dari psikologi individu, baik sebelum maupun setelah kelahiran berikut kematangan perilaku psikologi perkembangan merupakan ilmu yang mempelajari karakteristik setiap fase-fase perkembangan. Dalam penulisan makalah ini untuk mengetahui karakteristik perkembangan fase remaja, hal-hal apa saja yang mempengaruhi psikologi perkembangan pada fase remaja.
Seorang tersusun atas dasar fatalitas jasmani dan rohania, di samping ada faktor temperamen, karakter, dan bakat fitalitas jasmani seseorang bergantunng pada konstruksi tubuhnya yang terpengaruh oleh factor-faktor hereditas sehingga keaadaanya dapat di katakan tetap atau konstan dan merupakan daya hidup yang sifatnya jasmanias.
Dewasa ini psikologi sangat dibutuhkan dalam setiap manusia khususnya bagi seorang pelajar (ABG) maupun pada orang dewasa. oleh karena itu khususnya bagi psikolog haruslah tau apa arti dari perkembangan dan kepribadian itu, agar dalam memberikan solusi kepada klien bisa menempatkan pada sasaran yang sesuai, karena, dalam perkembangan dan kepribadian pada setiap manusia merupakan bantuan untuk memberikan kepada siswa dalam menemukan pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan yang lebih baik. Pemberian bantuan ini dapat dilakukan dengan melalui berbagai cara, salah satu bahan yang bisa dipakai, misalnya diberikan kesempatan untuk membaca dan menelaah sebuah buku tentang sopan santun, cara belajar efektif, tata tertib dan sebagainya. Psikologi juga memiliki sebutan yang beragam dan terus berkembang dari waktu ke waktu. Psikologi ini tujuannya agar para siswa dapat mewujudkan diri sebagai pribadi yang mandiri, bertanggungjawab, pelajar kreatif, dan pekerja produktif dan dapat menerapkan perkembangan yang terjadi pada kepribadian seseorang.
Oleh karena itu agar lebih jelas tentang memahami perkembangan dan kepribadian pada seseorang, maka kami akan mengulas lebih lanjut tentang perkembangan dan kepribadian pada seseorang tersebut.
B.           Rumusan Masalah
Dari judul yang telah diberikan oleh dosen pembimbing untuk memenuhi tugas mata kuliyah kami dan dari latar belakang yang telah kami susun, maka kami dapat merumuskan makalah ini dengan beberapa rumusan makalah sebagai berikut:
1.      Apa Pengertian Perkembangan?
2.      Apa Definisi Kepribadian?
3.      Bagaimana Macam-Macam Perkembangan Kepribadian?
4.      Bagaimana Macam-Macam Tipologi Kepribadian?












BAB II
PEMBAHASAN
A.           Pengertian Perkembangan
Obyek psikologi perkembangan adalah perkembangan manusia sebagai pribadi. Para ahli psikologi juga tertarik akan masalah seberapa jauhkah perkembangan manusia tadi dipengaruhi oleh perkembangan masyarakat. Namun perhatian psikologi perkembangan yang utama tertuju pada perkembangan manusianya sebagai person, dan masyarakat merupakan tempat berkembangnya person tadi.
Pengertian perkembangan menunjuk pada suatu proses kearah yang lebih baik atau sempurna dan tidak begitu saja dapat di ulang lagi. Perkembangan menunjuk ada perubahan yang bersifat tetap dan tidak dapat di putar kembali.
Perkembangan juga berkaitan daengan belajar khususnya mengenai isi proses perkembangan, apa yang berkembang berkaitan dengan perilaku belajar. Dengan demikian perkembangan dapat diartikan sebagai proses yang kekal dan tetap yang menuju kea rah suatu organisasi pada tingkat intergrasi yang lebih tinggi, berdasarkan pertumbuhan, pemasakan dan belajar. Suatu devinisi yang relevan yang dikemukakan oleh Monks sebagai berikut : Perkembangan psikologis merupakan suatu proses yang dinamis. Dalam proses tersebut sifat individu dan sifat lingkungan menentukan tingkah laku apa yang akan menjadi actual dan terwujud.
Contoh Perkembangan :
1. Tingginya badan pada diri seseorang.
2. Berkembangnya daya pikir seseorang, yaitu dari masa kanak-kanak menjadi dewasa.
3. berkembangnya teknologi-teknologi canggihdi seluruh dunia.
Secara umum konsep perkembangan dikemukakan oleh Werner (1957) sebagai berikut : Perkembangan sejalan dengan prinsip ortho genetic, bahwa perkembangan berlangsung dari keadaan global dan kurang berdiferensiasi sampai ke keadaan dimanadiferensiasi, artikulasi, dan integrasi, meningkat secara bertahap. Proses diferensiasi itu diartikan sebagai prinsip totalitas pada diri anak, bahawa dari penghayatan totalitas itu lambat laun bagian-bagiannya menjadi semakin nyata dan bertambah jelas dalam kerangka keseluruhan.
Pada anak prasekolah dan taman kanak-kanak tampak adanya diskontinuitas, sedang pada kelompok umur yang lebih tinggi sampai dengan mahasiswa menunjukkan kontinuitas.
Menurut Nagel, perkembangan merupakan pengertian dimana terdapat struktur yang terorganisasikan dan mempunyai fungs-fungsi tertentu, o;eh karena itu bilamana terjadi perubahan struktur baik dalam organisasi maupun da;am bentuk, akan mengakibatkan perubahan fungsi.
Menurut Schneirla, perkembangan adalah perubahan-perubahan progesif dalam organisasi organisme, dan organisme inidilihat sebagai system fungsional dan adaptif sepanjang hidupnya. Perubahan-perubahan progresif ini meliputi dua faktor yakni kematangan dan pengalaman.
Spiker, mengemukakan dua macam pengertian yang harus dihubungkan dengan perkembangan yaitu :
1. Ortogenetik, yang berhubungan dengan perkembangan sejak terbentuknya individu yang baru dan seterusnya sampai dewasa.
2. Filogenetik, yakni perkembangan dari asal usul manusia sampai sekarang ini.
Rumusan ini lain tentang arti perkembangan yang dikemukakan oleh Libert, Paulus, dan Strauss, yaitu bahwa Perkembangan adalah proses perubahan dalam pertumbuhan pada suatu waktu ssebagai fungsi kematangan dan interaksi dengan lingkungan. Istilah perkembangan lebih dapat mencerminkan sifat-sifat yang khas mengenai gejala-gejala psikologis yang menampak. Perkembangan dapat juga dilikiskan debagai suatu proses yang kekal dan tetap yang menuju kearah suatu organisasi pada tingkat integrasi yang lebih tinggi, berdasarkan proses pertumbuhan, kematangan, dan belajar.
B.            Definisi Kepribadian
Kata “kepribadian” (personality) sesungguhnya berasal dari kata Latin: persona. Pada mulanya, kata persona ini menunjuk pada topeng yang biasa digunakan oleh pemain sandiwara di zaman Romawi dalam memainkan peranan-peranannya. Pada saat itu, setiap pemain sandiwara memainkan peranannya masing-masing sesuai dengan topeng yang dikenakannya. Lambat-laun, kata persona (personality) berubah menjadi satu istilah yang mengacu pada gambaran sosiala tertentu yang diterima oleh individu dari kelompok atau masyarakaynya, kemudian individu tersebut diharapkan bertingkah laku berdasarkan ataui sesuai dengan gambaran sosial (peran) yang diterimanya.
Dalam penelitian kepribadian, tedapat berbagai istilah, sepereti motif, sifat, dan temperamen, yang menunjuk kekhasan permanen pada perseorangan.
Konsep-konsep tersebut menyeratkan kejenjang litas-waktu dan lintas-situasi dalam pola prilaku individu. asal awal keajegan yang dianggapkan (presumed) itu tidak selalu sama. Temperemen, misalnya, lebih menunjuk opada dasar biologisdari prilaku, sementara motif dan sifat terkait dengan pengaruh-pengaruh lingkungan social. Apapun itu, keajengan yang disebut-sebut terlanjur ada, bahkan dianggap mencermenkan disposisi psikologis perseorangan, yang mengejawantah dalam tebaran tindakan yang luas.
Agaknya, pengertian atau definisi mengenai “kepribadian”  yang bisa dikemukakan sedemikian banyaknya. lebih dari enam dasawarsa lalu, Alloport dalam bukunya personality, mendaftarkan tidak kurang dari lima puluh definisi yang berbeda, dan sejak itu jumlahnya kian bertambahbanyak. Allport mendefinisikan kepribadian sebagai berikut:
personality is the dynamic organization within the individual of thos psychophysical systems that determine his unique adjustments to his environment (Kepribadian adalah organisasi-organisasi dinamis dari system-sistem psikofisik dalam individu yang turut menentukan cara-caranya unik atau khas dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya).
Dengan demikian, berdasarkan definisi diatas, klepribadian memilki beberapa unsur, berikut ini:
1.    Kepribadian itu merupakan organisasi yang dinamis. Dengan kata lain, ia tidak statis, tapi senantiasa berubah setiapa saat.
2.    Organisasi tersebut terdapat dalam diri individu. Jadi, tidak meliputi hal-hal yang berada di luar diri individu.
3.    Organisasi itu berdiri atas sistem psikis, yang menurut Allport meliputi, antara lain, sifat dan bakat, serta sistem fisik (anggota dan organ-organ tubuh) yang saling terkait.
4.    organisasi itu menentukan corak penyesuaian diri yang unik dari tiap individu terhadap lingkungannya.
Dalam bahasa populer, istilah “kepribadian” atau juga berarti ciri-ciri watak seseorang individu yang konsisten, yang memberikan kepadanya suatu identitas sebagai individu yang khusus. Jika dalam bahasa sehari-hari kita anggap bahwa seseorang mempunyai kepribadian, yang kita maksudkan ialah orang tersebut mempunyai beberapa ciri watak yang diperlihatkannya secara lahir, konsisten, dan konsekuen dalam tingkah lakunya, sehingga tampak bahwa individu tersebut memiliki identitas khusus yang berbeda dari individu lainya.
apabila definisi umum yang banyak menyerupai arti konsep dalam bahasa sehari-hari tersebut itu hendak kita pertajam, akan timbul banyak kesukaran. Hal itu sudah banyak dilakukan oleh para ahli psikologi yang memang merupakan tugas mereeka, tetapi tidak ada satu definisi yang tajam dan seragam. Agaknya, konsep kepribadian merupakan konsep yang begitu luas, sehingga menjadi suatu konstruksi yang tidak mungkin dirumuskan dalam satu definisi yang tajam, namun bisa mencakup keseluruhannya.
C.           Macam-Macam Perkembangan Kepribadian
Perkembangan manusia dalam psikoanalitik merupakan suatu gambaran yang sangat teliti dari proses perkembangan psikososial dan psikoseksual, mulai dari lahir sampai dewasa. Dalam teori Freud setiap manusia harus melewati serangkaian tahap perkembangan dalam proses menjadi dewasa. Tahap-tahap ini sangat penting bagi pembentukan sifat-sifat kepribadian yang bersifat menetap.
Menurut Freud, kepribadian orang terbentuk pada usia sekitar 5-6 tahun (dalam A.Supratika), yaitu: (1) tahap oral, (2) tahap anal: 1-3 tahun, (3) tahap palus: 3-6 tahun, (4) tahap laten: 6-12 tahun, (5) tahap genetal: 12-18 tahun, (6) tahap dewasa, yang terbagi dewasa awal, usia setengah baya dan usia senja.
1.                  Struktur Kepribadian
Dalam teori psikoanalitik, struktur kepribadian manusia itu terdiri dari id, ego dan superego. Id adalah komponen kepribadian yang berisi impuls agresif dan libinal, dimana sistem kerjanya dengan prinsip kesenangan “pleasure principle”. Ego adalah bagian kepribadian yang bertugas sebagai pelaksana, dimana sistem kerjanya pada dunia luar untuk menilai realita dan berhubungan dengan dunia dalam untuk mengatur dorongan-dorongan id agar tidak melanggar nilai-nilai superego. Superego adalah bagian moral dari kepribadian manusia, karena ia merupakan filter dari sensor baik- buruk, salah- benar, boleh- tidak sesuatu yang dilakukan oleh dorongan ego.
Gerald Corey menyatakan dalam perspektif aliran Freud ortodoks, manusia dilihat sebagai sistem energi, dimana dinamika kepribadian itu terdiri dari cara-cara untuk mendistribusikan energi psikis kepada id, ego dan super ego, tetapi energi tersebut terbatas, maka satu diantara tiga sistem itu memegang kontrol atas energi yang ada, dengan mengorbankan dua sistem lainnya, jadi kepribadian manusia itu sangat ditentukan oleh energi psikis yang menggerakkan.
2.                  Persepsi tentang sifat manusia
Menurut Sigmund Freud, perilaku manusia itu ditentukan oleh kekuatan irrasional yang tidak disadari dari dorongan biologis dan dorongan naluri psikoseksual tertentu pada masa enam tahun pertama dalam kehidupannya. Pandangan ini menunjukkan bahwa aliran teori Freud tentang sifat manusia pada dasarnya adalah deterministik. Namun demikian menurut Gerald Corey yang mengutip perkataan Kovel, bahwa dengan tertumpu pada dialektika antara sadar dan tidak sadar, determinisme yang telah dinyatakan pada aliran Freud luluh. Lebih jauh Kovel menyatakan bahwa jalan pikiran itu adalah ditentukan, tetapi tidak linier. Ajaran psikoanalisis menyatakan bahwa perilaku seseorang itu lebih rumit dari pada apa yang dibayangkan pada orang tersebut.
D.           Macam-Macam Tipologi Kepribadian
Pada dasarnya, setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda satu sama lain. Penelitian mengenai kepribadian manusia sudah dilakukan para ahli sejak dulu kala. Kita mengenal Hippocrates dan Galenus (400 SM dan 175 M) yang mengemukakan bahwa manusia bisa dibagi menjadi empat golongan menurut keadaan zat cair yang ada dalam tubuhnya.
1)        Melancholicus, yaitu orang-orang yang banyak empedu hitamnya, sehingga tipe orang seperti ini selalu bersikap murung atau muram, pesimistis, dan selalu menaruh rasa curiga.
2)        Sanguinicus, yakni orang-orang yang banyak darahnya, sehingga orang-orang tipe ini selalu menunjukkan wajah yang berseri-seri, periang atau selalu gembira, dan beresikap optimistis.
3)        Flegmaticus, yaitu orang-orang yang banyak lendirnya. orang tipe ini sifatnya lamban dan pemalas, wajahnya selalu pucat, pesimis, pembawaannya tenang, pendiriannya tidak mudah berubah.
4)        Cholericus, yakni orang yang banyak empedu kuningnya. Orang tipe ini bertubuh besar dan kuat, namun penaik darah dan sukar mengendalikan diri, sifatnya garang dan agresif.
Menurut C.G. Jung, tipe manusia bisa dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu:
1)        Tipe extrovert, yaitu orang-orang yang perhatiannya lebih diarahkan keluar dirinya, kepada orang-orang lain dan kepada masyarakat.
2)        Tipe introvert, yaitu orang-orang yang perhatiannya lebih mengarah pada dirinya, pada “aku” nya.
Selanjutnya selain yang disebutkan diatas masih banyak macam-macam tipologi sebagai berikut:
a.         Tipologi Mazhab Itali
Berdasarkan atas data-data yang di peroleh oleh DeGiovani, serta hukum deformasi yang dirumuskan oleh DeGiovani,Viola dalam penyelidikan-penyelidikannya menemukan, bahwa ada tiga macam tipe manusia berdasarkan atas keadaan tubuhnya, yaitu :
(1) Microsplanchnis : ukuran-ukuran menegak relatif dominant, sehingga orangnya kelihatan tinggi jangkung.
(2) Macrosplanchnis : ukuran-ukuran mendatarnya relatif dominant, sehingga orangnya kelihatan pendek gemuk.
(3) Normosplanchnis : ukuran-ukuran menegak dan mendatar seimbang, sehingga orang kelihatan seimbang. Bermacam-macam bentuk tubuh yang demikian itu beralas pada keturunan.
b.         Tipologi Mazhab Perancis
Mazhab Perancis yang dipimpin oleh Sigaud berpendapat, bahwa keadaan serta bentuk tubuh manusia serta kelainan-kelainannya itu pada pokoknya ditentukan oleh sekitar atau lingkungan. Yaitu :
(1) Ada lingkungan yang berwujud udara yang menjadi sumber reaksi respiratoris.
(2) Ada sekitar yang berwujud makan-makanan yang menjadi sumber reaksi-reaksi digestif.
(3) Ada lingkungan yang berwujud keadaan-keadaan alam yang menjadi sumber reaksi-reaksi muskuler.
(4) Ada lingkungan yang berwujud keadaan sosisl yang menimbulkan reaksi-reaksi cerebral.
c.         Tipologi Kretschmer
(a).       Tipe-tipe manusia menurut keadaan jasmaninya
Kretschmer menggolong-golongkan atas dasar bentuk tubuhnya menjadi empat :
1.         Tipe piknis:
Sifat-sifat khas tipe ini ialah :
- Badan agak pendek.
- Dada membulat, perut besar, bahu tidak lebar.
- Leher pendek dan kuat.
- Lengan dan kaki lemah.
- Kepala agak “merosot” ke muka diantara keuda bahu, sehingga bagian atas dari tulang punggung kelihatan sedikit melengkung.
- Banyak lemak, sehingga urat-urat dan tulang-tulang tak kelihatan nyata
Tipe ini memperoleh bentuknya yang nyata setelah orang berumur 40 tahun.
2.         Tipe Leptosom
Orang yang bertipe leptosom ukuran-ukuran menegaknya lebih dari keadaan biasa, sehingga orangnya kelihatan tinggi jangkung, sifat-sifat khas tipe ini ialah:
- badan langsing/kurus, jangkung
- perut kecil, bahu sempit
- lengan dan kaki lurus
- tengkorak agak kecil, tulang-tulang di bagian muka kelihatan jelas
- buka bulat telur
- berat relatif kurang
3.         Tipe Atletis
Pada orang yang bertipe atletis ukuran-ukuran tubuh yang menegak dan mendatar dalam perbandingan yang seimbang, sehingga tubuh kelihatan selaras; tipe mini dapat dipandang sebagai sintesis dari tipe piknis dan tipe leptoson. Sifat-sifat khas tipe ini ialah:[12]
- tulang-tulang serta otot dan kulit kuat
- badan kokoh dan tegap
- tinggi cukupan
- bahu lebar dan kuat
- perut kuat
- panggul dan kaki kuat, dalam perbandingan dengan bahu dan kelihatan agak kecil
- tengkorak cukup besar dan kuat, kepala dan leher tegak
- muka bulat telur, lebih pendek dari tipe lepsotom
4.         Tipe Displatis
Tipe ini merupakan penyimpangan dari ketiga tipe yang telah dikemukakan itu, tidak dapat dimasukan ke dalam salah satu diantara ketiga tipe itu, karena tidak memiliki ciri-ciri yang khas menurut tipe-tipe tersebut. Bermacam-macam bagian yang seolah-olah bertentangan satu sama lain ada bersama-sama. Kretschmer sendiri menganggap tipe displastis ini menyimpang dari kosntitusi normal.
(b).       Tipe-Tipe Manusia Menurut Temperamennya
1. Tipe schizothyme
Orang yang bertemperament schizothym, sifat-sifat jiwanya bersesuaian dengan para penderita schizoprenia, hanya sangat tidak jelas, ada kecenderungan ke arah autisme: menutup diri sendiri, hidup dengan dirinya sendiri
2. Tipe cyklothym
Orang yang bertemperament cyklothym, sifat-sifat jiwanya bersesuain dengan para penderita manisdefresif, hanya sangat tidak jelas. Golongan ini juga mudah untuk ikut merasakan suka dan duka orang lain
(c).       Hubungan Antara Keadaan Jasmani Dan Temperament
1. orang yang konstitusi piknis kebanyakan bertemperament cyklothym, atau orang-orang yang bertemperament cyklothym kebanyakan berkonstiusi piknis
2. orang-orang yang berkonstitusi leptosom, atletis, dan displastis kebanyakan bertemperament schizothyum, atau orang-orang yang bertemperament schizothym kebanyakan berkonstitusi leptosom, atau atletis atau displastis.







BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Pengertian perkembangan menunjuk pada suatu proses kearah yang lebih baik atau sempurna dan tidak begitu saja dapat di ulang lagi. Perkembangan menunjuk ada perubahan yang bersifat tetap dan tidak dapat di putar kembali.
Kata “kepribadian” (personality) sesungguhnya berasal dari kata Latin: persona. Pada mulanya, kata persona ini menunjuk pada topeng yang biasa digunakan oleh pemain sandiwara di zaman Romawi dalam memainkan peranan-peranannya.
Menurut Freud, kepribadian orang terbentuk pada usia sekitar 5-6 tahun (dalam A.Supratika), yaitu: (1) tahap oral, (2) tahap anal: 1-3 tahun, (3) tahap palus: 3-6 tahun, (4) tahap laten: 6-12 tahun, (5) tahap genetal: 12-18 tahun, (6) tahap dewasa, yang terbagi dewasa awal, usia setengah baya dan usia senja.
Pada dasarnya, setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda satu sama lain. Kita mengenal Hippocrates dan Galenus (400 SM dan 175 M) yang mengemukakan bahwa manusia bisa dibagi menjadi empat golongan menurut keadaan zat cair yang ada dalam tubuhnya.
1.      Melancholicus.
2.      Sanguinicus.
3.      Flegmaticus.
4.      Cholericus.




DATAR PUSTAKA
@ Sujanto, Agus,  Psikologi Perkembangan, (Jakarta : Aksara Baru, 1927).
@ Partowisastro, Koestoer, Dinamika Dalam Psikologi Pendidikan, (Jakarta : Penerbit Erlanga, 2004).
@ Knoers, Monks dkk, Psikologi Perkembangan, (Yogyakarta : Universitas Gajah Mada, 2006).
@ Koswara, Teori-Teori Kepribadian, (Bandung: PT. Eresco, 1991).
@ John W. et al Bery, Psikologi Lintas Budaya: Reset dan Aplikasi,Penerjemahan Edi Suhartono, (PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1999).
@ Sobur, Alex,  Psikologi Umum, (Bandung: CV. Pustaka Setia 2003).
@ Allport, Gordon Personality a Psychological Interpretation, (Constable & Co. Ltd. London, 1971).

JATIGEPCLOTH

Kaos adalah pakaian sederhana , dan ringan untuk tubuh bagian atas. biasanya berlengan pendek, namun ada juga yang berlengan panjang. ...